Simak Statistik

Tampilkan postingan dengan label Seri Seni Fasilitasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Seni Fasilitasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

Sesi Seni Merancang Sesi Pelatihan

Oleh Herizal E. Arifin




Sesi Merancang Sesi Pelatihan dibagi dalam tiga kegiatan atau bagian. Bagian pertama atau kegiatan pertama ini membahas cara mengidentifikasi kebutuhan pelatihan peserta dan topik yang spesifik, termasuk tips menilai kebutuhan pelatihan dan tips membagi kelompok dalam pelatihan serta daur program pelatihan.


Bagian kedua akan menyajikan sesi menentukan tujuan dan sasaran pelatihan, termasuk tips menyusun tujuan dan sasaran pelatihan dan panduan menuliskannya.


Bagian ketiga menyajikan cara menentukan isi, metode, dan teknik pelatihan, termasuk jenis-jenis teknik pelatihan efektif.


Sesi ini pernah saya fasilitasi bersama fasilitator Equitas Canada dalam TOT untuk Panita RANHAM Pusat.


Baca selengkapnya dan unduh di sini:
1. Menilai Kebutuhan Pelatihan Peserta
2. Menentukan Tujuan dan Sasaran Pelatihan
3. Menentukan Isi, Metode, dan Teknik Pelatihan



Sumber utama: Equitas Canada. 2007. Peningkatan Kapasitas Tim Pendidikan RANHAM: Panduan Untuk Pelatih

Rabu, 03 Agustus 2011

Transformasi Sosial, Pembelajaran Transformatif, dan Potensial Transformatif

Tulisan ini mencoba memerikan beberapa hal tentang transformasi sosial, pembelajaran transformatif, dan potensial transformatif, termasuk praktik-praktik penting dan kondisi-kondisi ideal untuk menerapakn pembelajaran transformatif. Tulisan ini pernah dimuat dalam Manual Pelatihan HAM Tahunan (PHAMT) 2008-2011. Manual pelatihan disusun oleh para alumni diantaranya Atikah Nuraini, Herizal E. Arifin, dan kawan-kawan. PHAMT diselenggarakan atas kerja sama Equitas Canada dengan para alumni International Human Rights Training Program yang diselenggarakan di Montreal, Canada.

Menjabarkan Perubahan (Transformasi) Sosial
Transformasi sosial dapat melibatkan perubahan dalam struktur sosial, hubungan antar tenaga kerja, urbanisasi, perilaku, kepercayaan, pandangan, nilai-nilai, kebebasan dan hak-hak, kualitas pendidikan, keuntungan secara kompetitif dan komparatif serta tata pemerintahan yang baik.
Sumber: Alvi, H. (2005). The Human Rights of Women and Social Transformation in the Arab Middle East. Middle East Review of International Affairs, Vol. 9, Juni 2005, No. 2.

Dalam Mencapai Transformasi Sosial
Taylor (1998), dengan merujuk pada pendapat Paulo Freire mengenai tujuan transfromasi sosial, menunjuk Freire “... sangat menaruh perhatian pada transformasi sosial melalui pengungkapan kebenaran oleh orang-orang yang tertindas dengan cara membangkitkan kesadaran kritis mereka dimana mereka belajar untuk menerima pertentangan-pertentangan sosial, politis dan ekonomi, serta mengambil tindakan dalam melawan elemen-elemen opresif kebenaran.”
Sumber: Taylor, E. (1998). The Theory and Practice of Transformative Learning: A Critical Review. Ohio: Vocational Education, Ohio State University. Dapat diakses melalui alamat web: www.cete.org/acve/mp_taylor_01.asp (diakses pada tanggal 6 Oktober 2004)

Pembelajaran Transformatif
Mezirow, yang membuat teori pembelajaran transformatif, menyatakan bahwa para individu dapat ditransformasi/dirubah melalui sebuah proses refleksi kritis. Ia lalu menjelaskan bahwa dalam pembelajaran transformatif, pembelajaran yang paling kentara justru timbul dalam ranah komunikatif yang “melibatkan pengidentifikasian pemikiran, nilai, kepercayaan serta perasaan yang bermasalah, secara kritis menguji asumsi yang mendasari hal-hal tersebut, menguji pembenaran mereka melalui diskursus rasional dan membuat keputusan yang diambil berdasarkan hasil konsesus.” (Taylor, 1998, p. 43)
Sumber: Nazzari, V., et al. (Canadian Human Rights Foundation, yang merupakan nama Equitas sebelumnya) (2005). Using Transformative Learning as a Model for Human Rights Education: A Case Study of the Canadian Human Rights Foundation’s International Human Rights Training Program, Intercultural Education, Vol. 16, No. 2, Mei 2005, halaman. 171-186.

Model Potensial Transformatif
Model potensial transformatif merupakan sebuah representasi visual mengenai bagaimana pembelajaran transformatif dapat menciptakan sebuah dampak pada tingkat individual, lembaga, dan masyarakat.

 Praktik-praktik Penting dan Kondisi-kondisi Ideal untuk menerapkan Pembelajaran Transformatif
Di bawah ini merupakan tindakan-tindakan serta keadaan-keadaan penting dalam menerapkan pembelajaran transformatif seperti yang ditunjukkan oleh J. Mezirow[1] dan para peneliti sesudahnya yang mendukung serta memperluas penemuan-penemuannya.

1)    Kondisi-kondisi belajar yang ideal
·         Kondisi-kondisi belajar yang meningkatkan rasa keamanan, keterbukaan serta kepercayaan (contohnya kelayakan lingkungan pelatihan).

2)    Situasi pembelajaran yang terbuka dan mengutamakan refleksi kritis
·         Dibentuknya situasi pembelajaran yang demokratis, terbuka, rasional, memiliki akses kepada semua informasi yang ada serta mengutamakan refleksi kritis.

3)    Pembelajaran transformatif sebagai pengalaman
·         Pembelajaran yang mensyaratkan adanya saling berbagi pengalaman hak asasi manusia secara pribadi maupun profesional

4)    Kurikulum yang berpusat pada peserta
·         Metode-metode struktural efektif yang mengutamakan pendekatan berpusat pada siswa, mengangkat otonomi, keterlibatan dan kerjasama para siswa.
·         Kegiatan-kegiatan yang memberi dukungan terhadap eksplorasi perspektif pribadi alternatif, pengajuan masalah serta refleksi kritis.

5)    Umpan balik dan penilaian diri
·         Keadaan-keadaan pembelajaran yang mendukung umpan balik yang layak dan tepat waktu merupakan sebuah aspek utama dalam proses pembelajaran partisipatif.
·         Berada dalam sebuah lingkungan yang mendukung kemampuan untuk tidak memberikan kritik terhadap ide orang lain secara pribadi dan bagaimana menanggapi kritik dari orang lain.

6)    Pengaturan kelompok untuk pembelajaran transformatif 
Kondisi-kondisi signifikan bagi pembelajaran transformatif dalam konteks kelompok meliputi:
·         Kesempatan untuk saling mengenal latar belakang budaya dari seluruh peserta di dalam kelompok.
·         Perlunya menghargai dan tidak menghindari “ketidaksepahaman dan konflik”.
·         Keharusan melaksanakan ide-ide baru.

7)    Karakteristik Fasilitator
·         ‘Guru’ harus dapat dipercaya, bersikap empati, peduli, mempertahankan keaslian, jujur dan menunjukan integritas tingkat tinggi.

Sumber: Nazzari, V., et al. (Canadian Human Rights Foundation, nama Equitas sebelumya). (2005). Using Transformative Learning as a Model for Human Rights Education: A Case Study of the Canadian Human Rights Foundation’s International Human Rights Training Program, Pendidikan interkultur Vol. 16, No. 2, Mei 2005, hal. 171-186.





[1] Jack Mezirow memulai teori pembelajaran transformative. Ia merupakan Profesor Emeritur Pendidikan Lanjutan dan Dewasa pada Teachers College, Columbia University. Titik berat penelitian Professor Mezirow adalah pada pembelajaran dan pendidikan bagi orang dewasa. Hasil kerjanya telah membuahkan sebuah perubahan teori Transformasi yang melingkupi dimensi generic serta proses pembelajaran dan dampaknya bagi para pendidik orang dewasa.

Sabtu, 23 Juli 2011

Tips Terampil Memfasilitasi


Oleh Herizal E Arifin

SETELAH Teknik Bertanya dan Mengatur Suasana Belajar, Supporting Human Rights Community mencoba melengkapi anda dengan sejumlah informasi tentang keterampilan-keterampilan yang sepatutnya dimiliki oleh seorang fasilitator. Materi ini diambil dari Manual Pelatihan HAM Tahunan (PHAMT) 2010 yang ditulis Atikah Nuraini, Herizal E. Arifin,  dan kawan-kawan.

1. Tip tentang pengelolaan waktu
  • Lakukan pemotongan mulai dari tengah program, bukan dari awal atau akhir
  • Sederhanakan kerja, misalnya buanglah beberapa langkah dari kegiatan
  • Kurangi jumlah waktu diskusi dalam kelompok kecil
  • Kurangi waktu pelaporan di kelompok pleno.
  • Pastikan anda datang tepat waktu, dan menghormati jadwal, misalnya break, makan siang, akhir hari
  • Jika ada perlu perubahan, bahaslah rencana kegiatan dengan para peserta
2.  Gunakan beragam teknik untuk melibatkan semua peserta
  • Rotasikan komposisi anggota dari kelompok keci
  • Delegasikan peran peran peserta dalam kelompok kecil (misalnya pimpinan, pencatat waktu, notulen, jurubicara, dsb.)
  • Mendorong metode yang berbeda ketika melaporkan kerja hasil kelompok.
  • Menciptakan susunan tempat duduk yang mendorong diskusi kelompok
3. Tip-tip tentang keterlibatan fasilitator dalam diskusi
  • Sebagai fasilitator, anda menghantarkan keterampilan dan pengetahuan spesifik ke suatu program pelatihan. Ini adalah tantangan untuk menyediakan keahlian secara strategis dan terhormat.
  • Rangkumlah diskusi untuk memastikan bahwa semua peserta mengerti, dan kawal diskusi pada arah yang anda kehendaki. Apabila ada ketidaksepakatan, tariklah kesimpulan.
  • Ungkapkan kembali pernyataan peserta ke dalam kalimat yang lebih tajam demi menguji pemahaman anda dan memperkuat pernyataan itu.
  • Ajukan pertanyaan yang mendorong tanggapan reflektif, misalnya pertanyaan terbuka.
  • Jangan menjawab sendiri semua pertanyaan. Para peserta dapat saling menjawab pertanyaan satu sama lain.
  • Tanya para peserta apakah mereka sependapat dengan pernyataan dari peserta lain.
  • Pastikan bahwa para peserta lebih banyak bicara dari anda.
4. Tip-tip tentang menyampaikan presentasi.
  • Lakukan beberapa kali latihan sebelum anda presentasi.
  • Pastikan bahwa isi dan gaya penyampaian sesuai dengan kebutuhan pemirsa anda.
  • Pertahankan kontak tatapan mata dengan  pemirsa (peserta pelatihan).
  • Bicaralah dengan nada percakapan.
  • Hantarkan antusiasme anda terhadap bahan dan pemirsa.
  • Secara berkala, tanyalah pemirsa apakah mereka bisa mendengar dan melihat segalanya.
  • Kelilingi ruangan, dengan gerak gerik yang wajar. Hindarkan gerak gerik yang dapat mengalihkan atau mengganggu perhatian peserta.
  • Lakukan interaksi dengan para peserta, demi menciptakan kesan positif dengan mereka.
5. Tip tentang penggunaan alat bantu visual (Papan tulis, overheads, flipcharts atau presentasi komputer.
  • Gunakan alat bantu visual untuk membangkitkan dan memfokuskan perhatian peserta.
  • Periksa peralatan sebelum sesi demi memastikan bahwa peralatan tersebut berfungsi dan anda mengerti cara menggunakannya.
  • Buatlah peraga visual  selama presentasi.
  • Dorong peserta untuk membuat catatan.
  •  Tiap peraga visual sebaiknya dibuat bermakna.
  • Peragakan informasi visual secara bertahap, bukan semuanya sekaligus.
  • Sediakan handout dari presentasi computer (misalnya PowerPoint) dengan  diberi ruang untuk catatan tambahan

Sumber: University of Waterloo, Teaching Resources and Continuing Education. (2002). Lecturing Interactively in the University Classroom. Available online: http://www.adm.uwaterloo.ca/infotrac/interactiveUclassroom.html.




Sang Fasilitator ("Profesional")


Oleh Herizal E. Arifin


KH Ahmad Dahlan
KATA profesional populer pada awal abad ke-20 ketika seorang dokter di Amerika Serikat sana menyusun kurikulum untuk akademi perawat. Kurikulum ini memperkenalkan jabatan perawat sebagai profesi, yaitu pekerjaan yang memerlukan pendidikan khusus, bersifat melayani manusia tanpa perbedaan, dan berlaku seumur-umur.

Pemikiran dasar di atas, kemudian hari berkembang menjadi rincian syarat-syarat sebuah profesi: pertama, sebuah pekerjaan disebut profesi jika ada pendidikan yang baku dan sinambung; kedua, ilmu yang mendasari pekerjaan ini bersifat otonom dan dikembangkan oleh orang-orang dari ilmu yang bersangkutan; ketiga, profesi merupakan suatu pekerjaan yang tidak semata-mata mencari keuntungan tetapi juga memberikan pelayanan kepada manusia tanpa pembedaan; keempat, sebagai seorang profesional, dia akan belajar seumur hidup sambil meneliti dan mengembangkan ilmunya; dan kelima, insan profesional terikat secara moril dalam hubungan kesejawatan dan menyepakati kode etik profesi, dalam arti terbuka untuk ditilik dan diperiksa oleh rekan seprofesi.


Kode etik profesi
Mencermati ketentuan tadi, maka tidak setiap pekerjaan adalah profesi. Sejauh ini yang disebut profesi adalah guru, perawat, dokter, peneliti, pengacara, wartawan, pekerja sosial, arsitek, psikolog, akuntan, asisten apoteker, analis laboratorium, sastrawan, pendeta, manajer, konselor, dan beberapa lainnya.
           
Setiap profesi itu, menetapkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh insan profesi itu dalam menjalankan pekerjaannya. Inilah yang kita disebut kode etik atau kode kehormatan. Sebuah ilustrasi, jika seorang guru menganak emaskan seorang murid dan menaikan nilai ujian dari kenyataan sesungguhnya, guru itu dapat dikatakan melanggar kehormatan profesinya. Perbuatan guru itu melanggar prinsip pendidikan. Pelanggaran ini bukanlah urusan polisi atau pengadilan, melainkan urusan internal kesejawatan. Para sejawat gurulah yang perlu menegur kekeliruan guru itu.
           
Kalau demikian adanya, profesional itu berarti melakukan sebuah profesi sesuai dengan keyakinan atau kehormatan profesi itu. Seorang ahli bedah profesional tidak akan menetapkan posiennya untuk dibedah, kecuali jika itu betul-betul demi keselamatan dan kebaikan pasien. Seorang dokter kandungan, tidak melakukan bedah cesar  demi mendapat uang segera dan melimpah melainkan demi keselamatan ibu dan jabang bayinya. Lagi pula, seandainya itu sungguh perlu, ia akan memberi kebebasan kepada pasiennya untuk meminta pendapat kedua atau second opinion dari dokter bedah atau kandungan lain. Bukan kepada petinju atau tukang jagal. Makna profesional di sini adalah mengutamakan kepentingan pihak yang dilayani.

Jumat, 22 Juli 2011

Teknik Bertanya Fasilitator: Menggali dan Menyaji

Diadaptasi oleh Herizal E. Arifin dari buku “Belajar Pengalaman Berstruktur”, P3M, oleh Mansour Fakih, dan kawan-kawan.

Janakpur - Teater Rakyat Melawan Penindasan

S
iapa pun kita, hampir setiap saat kita mengajukan pertanyaan untuk berbagai keperluan dan tujuan. Entah berapa pertanyaan sudah kita ajukan sepanjang hidup. Tak terhitung pasti. Bertanya bisa jadi merupakan salah satu unsur penting mekanisme pertahanan diri kita agar tetap dapat melangsungkan hidup, paling tidak saat ini. Kita bisa menduga-duga apa yang akan terjadi apabila seseorang tidak pernah melakukan kegiatan bertanya, baik kepada diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Secara umum kemungkinan jawaban adalah banyak kesempatan yang mungkin batal kita raih, banyak tujuan yang gagal kita capai, banyak umur yang kita buang sia-sia, bisa jadi pula terlalu banyak jalan yang kita tempuh, dan begitu banyak orang yang bertanya-tanya tentang kita.

Malu bertanya sesat di jalan, begitu kata orang tua kita dulu. Kita masih ingat peristiwa yang dialami Roy Suryo, anggota DPR RI dan ahli telematika itu, yang salah nomor tempat duduk dan bahkan salah pesawat  karena enggan bertanya. Nah, apa jadinya apabila sebuah pelatihan dengan pendekatan partisipatif, fasilitator enggan atau tidak mau mengajukan satu pertanyaan pun sepanjang sesi. Secara prinsip dan metodologi, sang fasilitator pasti tersesat. Yang pasti pula, para panitia dan peserta akan bertanya-tanya selama mengikuti sesi sang fasilitator .

Prinsip dasar
Dalam buku yang diadaptasi ini, Mansour Fakih dan kawan-kawan menyebutkan bahwa kemampuan fasilitator mengajukan pertanyaan ketika memfasilitasi kegiatan pelatihan sepintas lalu tampak tidak penting. Padahal, sesungguhnya inilah keterampilan paling pertama dan mutlak harus dikuasai oleh seorang fasilitator. Nalarnya jelas, karena hakekat dari fungsi dan peran fasilitator pelatihan dalam konsep pelatihan partisipatif dan andragogi adalah sebagai  orang yang melayani dan melacarkan kegiatan belajar peserta atas dasar pengalaman peserta sendiri.

Tidak jarang kita temukan—dan ini merupakan kelemahan umum yang ditemui dalam banyak kegiatan latihan—proses belajar menjadi mandek atau bahkan “salah arah” hanya karena fasilitator mengajukan pertanyaan yang tidak tepat pada saat dan cara yang tidak tepat pula. Di kalangan fasilitator pemula, bahkan terlalu sering ditemukan mereka menjadi bingung dan mati angin di depan kelas karena “kehabisan kata-kata untuk bertanya. Dalam keadaan panik dan mati gaya seperti itu biasanya fasilitator secara gampang saja langsung menyimpulkan pengalaman belajar peserta, tentu saja menurut persepsinya sendiri. Walhasil prinsip dasar latihan pun dilanggar lagi.

Teknik bertanya
Teknik bertanya dalam kegiatan atau proses latihan sebenarnya sederhana saja. Yang terpenting adalah kesadaran untuk tetap taat asas pada prinsip latihan partisipatif dan andragogi. Bahkan, tidak ada salahnya bagi seorang fasilitator mengaku tidak tahu—atau pura-pura tidak tahu—jawaban dari pertanyaan yang diajukan para peserta. Cara lain menjawabnya adalah dengan  melemparkan kembali pertanyaan tersebut untuk dijawab oleh peserta lain. Ini demi memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapat dan pengalaman mereka sendiri. Ini prinsip!

Adapun hal yang bersifat lebih teknis, antara lain:

  1. Usahakan agar pertanyaan diajukan secara singkat dan jelas. Jika perlu ulangi sekali lagi atau dua kali sampai jelas benar, terutama jika pertanyaan itu ditujukan pada seorang peserta tertentu.
  2. Namun jangan sampai pertanyaan semacam ini justru menjadi peserta gelagapan atau gugup menjawabnya. Hindari pertanyaan-pertanyaan tendesius dan gaya bertanya menghakimi (fasilitator bukan jaksa atau introgator, bukan?).
  3. Saat meneruskan pertanyaan dari seorang peserta ke peserta lain, hindari terjadi perang tanding diantara para peserta yang bersangkutan (berdebat langsung diluar kendali fasilitator).
  4. Jika perlu, pertanyaan seorang peserta dikembalikan kepadanya lagi dengan pertanyaan balik, seperti: “menurut anda sendiri bagaimana?”. Hal ini membantu peserta berpikir dan tidak menganggap fasilitator adalah makhluk yang tahu segalanya.
  5. Beberapa hal lain hanya bisa dipahami setelah mengalami sendiri. Mengalami  bagaimana memfasilitasi sebuah pelatihan, sesuai kondisi dan situasi yang ada.

Sebagai pedoman yang lebih teknis, jenis-jenis pertanyaan dasar yang paling sering digunakan dalam kegiatan latihan selama ini, seperti dibawah ini:

Selasa, 19 Juli 2011

Gaya Fasilitator - Unsur Penting Mengatur Suasana Pelatihan

Herizal E. Arifin

I
barat kusir delman, fasilitator adalah orang yang mengantarkan penumpang sampai ke tujuan. Bukan sampai ke tujuan sang kusir semata. Cara sang kusir mengendalikan kuda supaya baik jalannya merupakan bagian penting dalam memberi rasa aman, betah, dan nyaman kepada para penumpang selama perjalanan bersama anda. Begitu pula suara sepatu kuda, ketukan yang memberi sentuhan unik dan  ini tentu saja tidak ditemukan dalam perjalanan menggunakan alat transportasi lain.  

Mungkin anda sudah tahu, contoh rangkaian gaya fasilitator di bawah ini merupakan salah satu bagian penting dalam pelatihan. Faktor-faktor ini membantu para peserta pelatihan atau pendidikan mampu mengidentifikasi kenyamanan dan kepuasan mereka selama mengikuti pelatihan atau pendidikan, baik terhadap materi pelatihan itu sendiri maupun terhadap anda sebagai fasilitatornya.

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan:
1.    Tetapkan peran anda dalam pikiran anda

2.    Tetapkan harapan-harapan dan kebutuhan-kebutuhan peserta dan anda sebagai sebagai fasilitator. Pastikan hal itu diketahui dan dipahami oleh setipa orang dalam kelompok.

3.    Ciptakan atmosfer yang mendukung orang-orang merasa bebas mengambil resiko.
·         Peka terhadap proses komunikasi, termasuk bahasa tubuh peserta dan juga anda.
·         Mendengar dengan empati, jangan memotong (interupsi)
·         Hargai gagasan yang mungkin anda tidak sepakati
·         Gunakan dukungan positif, seperti pujian atau pengakuan)
·         Tunjukan bahwa anda peduli
·         Hadapi peserta yang sulit dengan cara yang terhormat.

4.    Komunikasikan secara terus terang apa yang anda ketahui dan tidak ketahui .

5.    Tetap semangat terus, energi listrik anda akan mengalir deras pada para peserta.

6.    Gunakan icebreaker dan/atau pembuka yang nyaman untuk anda dan anda merasa peserta juga akan merasa nyaman.

7.    Dapatkan umpan balik selama kegiatan dan pada akhir setiap bagian (atau modul).
·         Peran fasilitator dalam diskusi kelompok bukan hanya merangkum informasi yang disajikan, tetapi untuk mensistensiskan. Itu berarti fasilitator memainkan peran kunci dalam mengidentifikasi unsur-unsur umum yang digarisbawahi peserta, dan menyampaikan kepada peserta untuk berpikir lebih jauh apa arti kerja kelompoknya dalam hubungannya dengan kerja mereka.

8.    Buatlah diri anda terbuka untuk pertanyaan-pertanyaan

9.    Belajarlah bersama kelompok.


Sumber:
Equitas, Traning for Trainers: Designing and Delivering Effective Human Rights Education, Training Manual, hal. 111. 


Rabu, 06 Juli 2011

The Taste of Banzo’s Sword – Citarasa Pedang Banzo


Pelajaran Pertama Seni Fasilitasi

Matajuro Yagyu adalah putra seorang jago pedang termasyur. Ayahnya yakin bahwa anaknya terlalu biasa-biasa saja untuk menjadi seorang master.

Kemudian Matajuro pergi ke Mt. Futura menemui Banzo, seorang jago pedang ternama. Tetapi Banzo memperkuat penilaian Ayah Matajuro. “Kamu bercita-cita menjadi jago pedang dibawah asuhan saya? Tanya Banzo. “Kamu tidak memenuhi syarat.”

“Tetapi, jika saya bekerja keras, berapa tahun saya perlukan untuk menjadi seorang master?” anak muda Matajuro terus bertanya.

“Sepanjang sisa hidupmu,” sahut Banzo.

“Saya tak dapat menunggu lama,” jelas Matajuro. “Saya mau turuti  segala penderitaan jika saja anda mau mengajarkan saya. Apabila saya menjadi pembantu setia anda, berapa lama ini akan terwujud?”

“Oh, mungkin 10 tahun,” Banzo sedikit melunak.

“Bapak saya sudah sepuh dan saya harus merawatnya,” lanjut Matajuro.  “Kalau saya bekerja jauh lebih intensif lagi, berapa lama waktu yang saya perlukan?”

“Oh, mungkin 30 tahun,” kata Banzo.

“Mengapa begitu? Tanya Matajuro. ”Pertama anda bilang 10 dan sekarang 30 tahun. Saya mau menjadi jadi master seni bela diri ini dalam waktu pendek!”

“Baiklah,” kata Banzo. “Oleh sebab itu kamu harus tinggal dengan saya selama 70 tahun. Seorang lelaki tergesa-gesa seperti kamu, untuk memperoleh hasil, jarang dapat belajar dengan cepat.”

“Baiklah,” kata si anak mudah, akhirnya memahami bahwa dia sedang dimarahi karena tak sabar. “Saya sepakat.”

Matajuro mengatakan bahwa ia tidak pernah membicarakan soal permainan pedang dan tak pernah menyentuh pedang. Dia memasak untuk sang master, mencuci piring, merapihkan tempat tidur, membersihkan halaman, merawat taman,---semua itu tanpa sepata kata pun tentang kepiwaian menguasai pedang.

Tiga tahun dilalui. Matajuro masih menjadi pembantu. Berpikir tentang masa depannya, ia sangat sedih. Dia tidak pernah memulai belajar seni pedang yang sudah dia abdikan bagi hidupnya.

Tetapi seuatu hari Banzo muncul pelan-pelan disampingnya dan memberikan sebuah kibasan angin dari pedang kayu. Hari berikutnya, ketika Matajuro menanak nasi, Banzo “menerkam” dia tiba-tiba tanpa diduga-duga. Setelah itu, siang dan malam, Matajuro harus mempertahankan dirinya dari serangan tak disangka-sangka. Tiada hari terlewati tanpa memikirkan taste “citarasa” pedang Banzo.

Matajuro belajar sangat cepat. itu berbuah senyum di raut wajah sang gurunya. Dia Menjadi jago pedang terbesar di negerinya.


Sumber: The Art of Facilitation - How to Create Group Synergy. Dale Hunter, Anne Balley and Bill Taylor. Fisher Books. 1995.   

Talisman

"Saya akan memberikanmu talismanIngatlah wajah si paling miskin dan si paling lemah yang mungkin pernah kau temui, kemudian tanyakan pada dirimu sendiri, apakah langkah yang kamu rencanakan akan berguna baginya. Apakah dia akan memperoleh sesuatu dari langkah itu? Apakah itu akan membuat dia dapat mengatur kehidupan dan nasibnya sendiri? Maka akan kamu dapatkan keraguan itu hilang.” Mahatma Gandhi